Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia

Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia- Sistem peredaran darah terdiri dari pembuluh dan otot-otot yang membantu dan mengontrol aliran darah ke seluruh tubuh. Proses ini disebut sirkulasi. Bagian utama dari sistem ini adalah jantung, arteri, kapiler dan vena. Ketika darah mulai mengalir, ia meninggalkan jantung dari ventrikel kiri dan masuk ke aorta. Aorta adalah arteri terbesar dalam tubuh. Darah meninggalkan aorta penuh oksigen. Hal ini penting untuk sel-sel di otak dan tubuh untuk melakukan pekerjaan mereka. Darah yang kaya oksigen mengalir ke seluruh tubuh dalam sistem arteri ke arteriol terkecil. Dalam perjalanan kembali ke jantung, darah melakukan perjalanan melalui sistem pembuluh darah. Setelah mencapai paru-paru, karbon dioksida (produk limbah) akan dihapus dari darah dan menggantinya dengan oksigen segar yang kita dihirup melalui paru-paru.

Vena dan Arteri

Arteri yang tangguh, tabung elastis yang membawa darah dari jantung. Ketika arteri menjauh dari jantung, mereka membagi menjadi vesel yang lebih kecil. Arteri terbesar adalah setebal ibu jari. Arteri terkecil lebih tipis dari rambut. Arteri tipis disebut arteriol. Arteri membawa darah segar! Warnanya berasal dari oksigen yang dibawanya.

Vena membawa darah ke jantung. Pembuluh darah terkecil, juga disebut venula, sangat tipis. Mereka bergabung dengan vena besar yang terbuka ke jantung. Pembuluh darah membawa darah merah gelap yang tidak memiliki banyak oksigen. Vena memiliki dinding tipis. Mereka tidak perlu sekuat arteri karena ketika darah kembali ke jantung, berada di bawah tekanan kurang.

Jantung

Apakah Anda tahu bahwa jantung Anda adalah otot terkuat? Jantung Anda dibagi menjadi dua sisi. Sisi kanan memompa darah ke paru-paru Anda di mana mengambil oksigen. Pompa sisi kiri oksigen dibasahi darah keluar untuk tubuh Anda. Mereka tidak bekerja sendiri, tapi bersama sebagai sebuah tim. Darah tubuh disirkulasikan melalui jantung lebih dari 1.000 kali per hari. Antara lima dan enam ribu liter darah yang dipompa setiap hari. Jantung Anda seukuran yang sama seperti kepalan tangan Anda. Kerja jantung anda adalah untuk memompa darah ke seluruh tubuh Anda. Otot berkontraksi dan memeras darah. Pada sisi kiri memompa darah dari paru-paru ke seluruh tubuh Anda. Pompa sisi kanan darah basi dari tubuh Anda kembali ke paru-paru Anda untuk pasokan oksigen segar.

Apa itu Darah?

Darah lebih kental dari air dan memiliki sedikit rasa asin. Dalam tubuh orang dewasa ada 10,6 liter darah yang beredar di sekitar. Pada darah mereka ada miliaran hidup sel darah mengambang dalam cairan yang disebut plasma. Jika Anda mengambil sampel kecil darah ini dan menuangkannya ke dalam tabung reaksi dan kemudian memasukkannya ke dalam sebuah mesin yang disebut mesin pemisah, Anda akan dapat melihat lapisan darah ini. Mesin ini memutar darah sekitar begitu cepat sehingga memisahkan sel darah merah, dari sel-sel darah putih, dari trombosit. Sel-sel darah merah tenggelam ke dasar karena mereka lebih berat, bagian yang lebih padat, tapi plasma tetap di atas karena lebih ringan. Plasma adalah air 95% dan 5% lainnya terdiri dari zat terlarut, termasuk garam.

Fungsi Sistem Peredaran Darah

Secara umum, sistem peredaran darah berfungsi mengangkut makanan dan zat sisa hasil metabolisme. Selain itu, sistem peredaran darah juga berfungsi sebagai berikut.

  1. Mengangkut zat buangan dan substansi beracun menuju hati untuk didetoksifikasi (dinetralkan) atau ke ginjal untuk dibuang.
  2. Mendistribusikan hormon dari kelenjar dan organ yang memproduksinya ke sel-sel tubuh yang membutuhkannya.
  3. Mengatur suhu tubuh melalui aliran darah.
  4. Mencegah hilangnya darah melalui mekanisme pembekuan darah.
  5. Melindungi tubuh dari bakteri dan virus dengan mensirkulasikan antibodi dan sel darah putih.

Pada prinsipnya, sistem peredaran darah memiliki empat komponen utama sebagai berikut.

  1. Darah, berfungsi sebagai medium pengangkut untuk nutrisi, udara, dan zat buangan.
  2. Jantung, berfungsi memompa darah sehingga dapat beredar ke seluruh tubuh.
  3. Pembuluh darah, merupakan saluran tempat darah beredar ke seluruh tubuh.
  4. Sistem lain yang dapat menambah atau mengurangi kandungan dalam darah. Misalnya, usus halus dalam sistem pencernaan tempat darah mendapatkan nutrisi yang akan dibawa ke seluruh tubuh, atau ginjal tempat darah mengurangi konsentrasi urea yang dikandungnya.

Komposisi Darah. Manusia rata-rata mempunyai lima sampai enam liter darah, atau sekitar 8% dari total berat badannya. Apabila darah diendapkan dengan proses sentrifugasi, darah terbagi menjadi dua bagian, yaitu plasma darah dan sel sel darah (Starr and Taggart, 1995: 656). Perhatikan Gb 5.1.

plasma darah dan sel-sel darah

Gb. 5.1 Ketika darah disentrifugasi, akan terbentuk lapisan-lapisan darah, yaitu plasma darah dan sel-sel darah

Komponen

Jumlah

Plasma darah (50%–60% volume darah)
1. Air 91%–92% plasma darah
2. Protein 7%–8% plasma darah
3. Ion, gula, lemak, asam amino, hormon, vitamin, 1%–2% plasma darah
dan gas terlarut 4-5 juta sel/mL darah
Sel darah (40%–50% volume darah)
1. Sel darah merah 3.000–6.750 sel/mL darah
2. Sel darah putih 250.000–3.000 sel/mL darah
3. Trombosit

a. Plasma Darah. Plasma darah merupakan komponen darah yang paling banyak, yaitu sekitar 55%-60% bagian dari darah. Plasma darah terdiri atas 90% air dan 10% sisanya berupa zat-zat yang terlarut di dalamnya yang harus diangkut ke seluruh tubuh. Zat-zat terlarut dalam plasma darah tersebut terdiri atas protein, hormon, nutrisi (glukosa, vitamin, asam amino, lemak), gas (oksigen dan karbon dioksida), garam-garam (sodium, kalsium, potasium, magnesium), serta zat buangan seperti urea. Protein dalam plasma darah merupakan zat terlarut yang paling banyak. Terdapat tiga bagian utama protein plasma darah, yaitu:

1) albumin, berperan dalam mengatur tekanan osmotik darah (mengontrol aliran air yang masuk ke dalam membran plasma);

2) globulin, mengangkut nutrisi makanan dan berperan dalam sistem kekebalan tubuh;

3) fibrinogen, berperan dalam proses pembekuan darah.

b. Sel-Sel Darah. Hampir 45% dari volume darah manusia merupakan sel-sel darah. Darah mengandung beberapa tipe sel darah yang memiliki fungsi yang berbeda-beda. Terdapat tiga macam sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).

1) Sel darah merah.

Eritosit (erythro = merah, cyto = sel) tidak memiliki inti sel dan berbentuk bikonkaf sehingga memiliki luas permukaan yang besar (Gambar 5.2). Pria rata-rata mempunyai eritrosit ± 5 juta per mm3 darahnya, sedangkan wanita mempunyai eritrosit ± 4,5 juta per mm3 darahnya. Mengapa bisa demikian?

Gambar 5.2 Sel-sel darah merah

Gb. 5.2 Sel-sel darah merah berwarna merah dan berbentuk bikonkaf.

Eritrosit berwarna merah karena mengandung hemoglobin, yaitu sebuah molekul kompleks dari protein dan molekul besi (Fe). Setiap molekul hemoglobin dapat berikatan dengan empat molekul oksigen. Oksigen diperoleh ketika sel darah melewati kapiler-kapiler alveolus di paruparu. Hemoglobin kurang reaktif terhadap molekul karbon dioksida. Oleh karena itu, karbon dioksida yang diperoleh dari sel lebih banyak larut dalam plasma darah.

Gambar 5.3 Setiap hemoglobin dapat mengikat empat molekul oksigen

Gb. 5.3 Setiap hemoglobin dapat mengikat empat molekul oksigen.

Hemoglobin yang berikatan dengan oksigen akan berwarna merah cerah. Adapun hemoglobin yang tidak berikatan dengan oksigen, berwarna merah gelap atau kebiru-biruan. Sel darah merah dibentuk dalam sumsum tulang. Sel darah merah tidak mempunyai inti sel sehingga sel darah merah tidak dapat hidup lama. Sel darah yang mati atau rusak dikeluarkan dari sistem peredaran darah. Kemudian, masuk ke hati atau limfa untuk dipecah. Zat besi yang dikandung sel darah tersebut kemudian diangkut darah menuju sumsum tulang untuk dirakit kembali menjadi molekul hemoglobin yang baru hingga akhirnya terbentuk sel darah yang baru.

2) Sel Darah Putih.

Sel darah putih tidak memiliki hemoglobin sehingga tidak berwarna merah, serta ukuran dan jumlah sel darah putih berbeda dengan sel darah merah. Perbandingan jumlah sel darah putih dan sel darah merah mencapai 1:500 hingga 1:1000. Artinya, terdapat 500 hingga 1000 sel darah merah untuk setiap satu sel darah putih. Ukuran sel darah putih lebih besar daripada sel darah merah. Sel darah putih memiliki inti sel sehingga dapat bertahan hidup selama berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Sel darah putih berdasarkan karakteristik sitoplasmanya dapat dibagi menjadi dua, yaitu granulosit dan agranulosit. Granulosit merupakan kelompok sel darah putih yang sitoplasmanya bergranula. Granulosit terdiri atas neutrofil, eosinofil, dan basofil. Neutrofil adalah sel darah putih yang granulanya menyerap zat warna yang bersifat netral. Sementara itu, eosinofil granulanya menyerap zat warna yang bersifat asam, sedangkan basofil granulanya menyerap zat warna yang bersifat basa. Sementara itu, agranulosit merupakan kelompok sel darah putih yang sitoplasmanya tidak bergranula, terdiri atas limfosit dan monosit. Limfosit dinamai demikian karena sel ini terdapat juga pada cairan limfa. Adapun monosit merupakan sel darah putih yang berukuran besar.

Gambar 5.4 Terdapat lima tipe leukosit

Gambar 5.4 Terdapat lima tipe leukosit, yaitu (a) neutrofil, (b) eosinofil, (c) basofil, (d) limfosit, dan (e) monosit.

Sel darah putih dibentuk di limfa dan sumsum tulang. Secara umum, sel darah putih berperan dalam pertahanan tubuh. Sel darah putih akan mematikan organisme atau zat asing berbahaya yang masuk ke dalam tubuh, terutama yang masuk melalui jaringan darah. Eosinofil dan monosit dapat bersifat fagositik terhadap sel asing, seperti sel bakteri dan sel kanker. Dalam melaksanakan fungsinya, monosit dapat membesar menjadi makrofag.

3) Keping Darah.

Keping-keping darah (trombosit) merupakan fragmen-fragmen besar sel yang disebut megakariosit. Jadi, keping-keping darah bukan merupakan satu sel yang utuh. Seperti sel darah merah, keping-keping darah tidak mempunyai inti sel dan masa hidupnya pun pendek, yaitu sekitar 10–12 hari. Keping-keping darah berperan dalam proses penghentian pendarahan. Pembekuan dimulai ketika keping-keping darah dan faktor-faktor lain dalam plasma darah kontak dengan permukaan yang tidak biasa, seperti pembuluh darah yang rusak atau terluka. Ketika ada permukaan yang terbuka pada pembuluh darah yang terluka, keping-keping darah segera menempel dan menutupi permukaan yang terbuka tersebut. Keping-keping darah yang menempel, faktor lain, dan jaringan yang terluka memicu pengaktifan trombin, sebuah enzim, dari protrombin dalam plasma darah. Trombin yang terbentuk akan mengkatalis perubahan fibrinogen menjadi benang-benang fibrin.

bagan pembekuan darah

Molekul fibrin menempel satu sama lain, membentuk jaringan berserat. Jaringan protein fibrin ini, menghentikan aliran darah dan membuat darah menjadi padat, seperti gelatin ketika sudah dingin. Jaringan ini membuat sel darah merah terperangkap dan menambah kepadatan dari darah yang beku. Untuk memahami proses pembekuan darah, perhatikan Gb 5.5.

Gambar 5.5 Luka dapat memicu pembekuan darah

Gb. 5.5 Luka dapat memicu pembekuan darah.

Keping-keping darah menempel di bagian yang berserat dan mengeluarkan benang-benang yang lengket dan membuatnya merekat satu dengan yang lain. Dalam waktu setengah jam, keping-keping darah mengerut, menarik lubang untuk merapat, dan memaksa cairan yang ada untuk keluar. Aksi tersebut menghasilkan pembekuan yang padat dan kuat sehingga membuat luka merapat.

Artikel terkait Fungsi Sistem Peredaran Darah pada Manusia:

2 Comments

Add a Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Materi SMA © 2014